Lutung Jawa Muaragembong Terancam Punah

Desa Pantai Bahagia, 24/1/2018 – Lutung Jawa adalah salah satu jenis lutung asli (endemik) Indonesia. Sebagaimana spesies lutung lainnya, lutung Jawa yang bisa disebut juga lutung budeng mempunyai ukuran tubuh yang kecil, sekitar 55 cm, dengan ekor yang panjangnya mencapai 80 cm.

Lutung Jawa yang ada di Muaragembong adalah subspesies Trachypithecus auratus mauritius (Jawa Barat Ebony Langur) dijumpai terbatas di Jawa Barat dan Banten, salah satunya di daerah Muaragembong, Kabupaten Bekasi, habitatnya ada di wilayah Muarabendera, Desa Pantai Bahagia, Muara besar desa Pantai Sederhana dan Muara blacan desa Pantai Harapan Jaya.

Dilansir dari Blog maxgeografi.blogspot.com

Lutung Jawa atau lutung budeng dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Javan Lutung, Ebony Leaf Monkey, Javan Langur. Sedangkan dalam bahasa ilmiah (latin) lutung ini dikenal sebagaiTrachypithecus auratus yang mempunyai beberapa nama sinonim seperti Trachypithecus kohlbruggei (Sody, 1931), Trachypithecus maurus (Horsfield, 1823), Trachypithecus pyrrhus (Horsfield, 1823), Trachypithecus sondaicus (Robinson & Kloss, 1919), dan Trachypithecus stresemanni Pocock, 1934.

Bulu lutung Jawa (Trachypithecus auratus) berwarna hitam dan lutung betina memiliki bulu berwana keperakan di sekitar kelaminnya. Lutung Jawa (lutung budeng) muda memiliki bulu yang berwarna oranye. Untuk subspesies Trachypithecus auratus auratus (Spangled Langur Ebony) meliki ras yang mempunyai bulu seperti lutung Jawa muda dengan warna bulu yang oranye sedikit gelap dengan ujung kuning.

Lutung Jawa hidup secara berkelompok. Tiap kelompok terdiri sekitar 7 – 20 ekor lutung dengan seekor jantan sebagai pemimpin kelompok dan beberapa lutung betina dewasa. Lutung betina hanya melahirkan satu anak dalam setiap masa kehamilan. Beberapa induk betina dalam satu kelompok akan saling membantu dalam mengasuh anaknya, namun sering kali bersifat agresif terhadap induk dari kelompok lain.

Lutung Jawa (lutung betung) merupakan satwa diurnal yang lebih banyak aktif di siang hari terutama di atas pohon. Makanan kegemaran satwa ini antara lain dedaunan, beberapa jenis buah-buahan dan bunga. Terkadang binatang ini juga memakan serangga dan kulit kayu.

Morfologi, Anatomi dan Fisiologi

       Secara umum, ciri-ciri morfologi pada Lutung dewasa ditandai dengan rambut penutup berwarna hitam sampai hitam keperakan. Bagian atas tubuh dari Lutung berwarna kelabu kecoklat-coklatan gelap sampai kehitam-hitaman, dengan masing-masing rambut putih di ujungnya, memberikan warna kilap perak pada mantel kulit. Rambut-rambut pada kaki bawah dan punggung paha adalah kelabu dan kaki dapat berwarna keperak-perakan daripada punggung. Perut dan bagian sebelah dalam dari paha kelabu pucat. Tangan dan kaki berwarna hitam. Daerah muka yang tidak berambut berwarna hitam. Pada beberapa individu dapat mempunyai moncong yang berwarna putih, tidak terdapat cincin yang mengelilingi mata. Cambang keputih-putihan dan cukup panjang, hampir menutupi telinga, jambul rapih dan tinggi, sangat jelas pada jantan dewasa. Lutung Jawa jantan dan betina memiliki perbedaan yang terletak pada bagian “pelvik” (selangkangan), yang mana pada betina berwarna putih pucat, sedangkan jantan berwarna hitam.

       Lutung Jawa mempunyai keistimewaan yaitu, perutnya besar dan menggantung kebawah. Ini karena jenis makanannya yang terdiri dari daun-daunan, pucuk daun serta tidak mempunyai kantung makanan pipi. Jantan dewasa pemimpin kelompok mempunyai ukuran tubuh yang relatif lebih besar daripada betina dewasa tapi kadang-kadang juga tidak. Gigi taring jantan dewasa lebih keras dan tajam, serta gigi geraham yang besar yang sudah terspesialisasi untuk pemakan daun.

Lutung memiliki anatomi tubuh dengan susunan tulang pada tubuhnya yang panjang dan lebar. Lutung meiliki kelenjar air ludah yang besar dan saluran pencernaan yang kompleks. Trachypithecus auratus sondaicus sama seperti jenis-jenis lainnya yang termasuk Colobinae, yaitu memiliki ciri khas pada struktur lambung yang kompleks dan merupakan bentuk dasar pemisahan taksonomis.

Pergerakan

       Pergerakan primata secara garis besar dapat dibagi menjadi 4 macam gerak dasar, yaitu:

  1. Vertical clinging and leaping, yaitu gerakan melompat dari pohon ke pohon dan melompat dari atas ke  bawah. Pergerakan ini sering dilakukan oleh genus avahi, indri, tarsier, dan lepilemur.
  2. Quadropedalism, yaitu gerakan dengan berlari cepat dan perlahan, memanjat dan melompat. Pergerakan ini dilakukan oleh leur, cebus, macaca, mandriil, baboons, dan lain-lain.
  3. Ape locomotion, yaitu gerakan yang menggunakan kedua tangannya untuk menggelantung sehingga kedua kakinya menjadi bebas tergantung. Sering dilakukan oleh gibbon, siamang, orangutan, simpanse, gorilla.
  4. Bipedalism, yaitu gerakan yang menggunakan kedua kakinya dan sering dilakukan oleh manusia, seperti berdiri, melangkah dan berlari.

Tingkah Laku Makan dan Makanan

       Lutung merupakan pemakan daun. Sebagai makanan pokok, daun pun mempunyai keuntungan dan kerugian sekaligus. Daun terdapat berlimpah-limpah, tetapi tidak mengandung gizi banyak. Untuk mendapatkan sebanyak mungkin manfaat dari daun, Lutung telah mengembangkan beberapa system pencernaan khusus, termasuk lambungnya yang mampu membesar. Untuk mempertahankan hidupnya, Lutung harus makan dedaunan dengan jumlah banyak. Sehingga setelah makan kenyang, berat makanan dan lambungnya yang besar itu mencapai seperempat dari berat badan keseluruhannya bahkan lebih.

       Makan dapat dimulai begitu bangun tidur hingga tidur kembali, biasanya diselingi dengan eksresi. Cara mengambil makanan biasanya dilakukan dengan dipetik oleh tangan atau langsung oleh mulut. Lutung Jawa cenderung mengarah pada hewan semi-Ruminansia yang memakan makanan dengan kadar selulosa tinggi, daun yang dimakan ada yang dimakan seluruhnya, ada yang sebagian saja. Dan sudah menjadi kebiasaan bahwa Lutung Jawa akan menjatuhkan setidaknya separuh dari makanannya ke lantai hutan.

       Pada kebanyakan primata dan Lutung Jawa terdapat 3 alasan mengapa primata dan juga Lutung Jawa “senang” berganti-ganti pilihan makanannya (Richard, 1985), yaitu:

  1. Kandungan nutrisi yang terkandung didalamnya.
  2. Kebutuhan akan jumlah dan jenis kandungan gizi yang berbeda-beda pada setiap Primata dan juga Lutung Jawa serta konsekuensinya bila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi.
  3. Kemampuan tiap jenis Primata dan juga Lutung Jawa yang berbeda-beda dalam mengolah makanannya.

Klasifikasi

       Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) adalah satwa diurnal dan arboreal. Satwa ini dapat melompat dari satu cabang ke cabang yang lain pada pohon-pohon yang sangat tinggi jarak lompatan mencapai 3 meter (Rowe, 1996)

       Klasifikasi Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) menurut (Napier and Napier, 1967) ialah sebagai berikut :

Kingdom             : Animal

Phylum               : Chordata

Subphylum         : Vertebrata

Claas                 : Mamalia

Sub class           : Theria

Ordo                  : Primata

Sub ordo            : Anthropoidea

Famili                 : Cercopithecidea

Sub famili           : Colobinea

Genus                : Trachypithecus

Species : Trachypithecus auratus

       Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) memeiliki makanan alami seperti daun-daunan dan buah-buah hutan yang merupakan makanan ideal bagi satwa yang hidup di hutan. Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) memiliki lambung yang kompleks serta mengandung bakteri untuk menguraikan daun dan menetralisir racun (Vermeulen, 2001).

Habitat

       Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) adalah hewan diurnal dan arboreal. Satwa ini melompat dari satu cabang pohon menuju pohon lain yang sangat tinggi dan jarak lompatnya mencapai 3 meter (Rowe, 1996).  Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) hidup dihutan dataran rendah hingga dataran tinggi, baik dihutan primer maupun sekunder. Mereka juga mendiami daerah perkebunan dan hutan bakau (Supriyatna dan Wahyono, 2000).

Status

       Akibat pengurangan habitat untuk berbagai keperluan manusia, maka semenjak tanggal 22 September 1999, Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) telah dilindungi undang-undang, berdasarkan SK. Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 773/Kpts-II/1999. Menurut CITES, Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) termasuk dalam kategori Appendix II (Satwa yang tidak boleh di perdagangkan karena keberadaannya terancam punah) dan pada tahun 1996 oleh IUCN diketegorikan sebagai primate yang rentan (vulnerable) terhadap gangguan habitat karena terus terdesak oleh kepentingan manusia (Supriatna dan Edy, 2000).

Perilaku Sosial

       Menurut Seoratmo (1979) dalam Tim penelitian (2003) mengatakan bahwa perilaku bintang secara umum dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu perilaku sosial binatang dalam spesies yang sama (intraspecific relationship). Kedua jenis perilaku sosial tersebut dapat terjadi pada kelompok binatang karena terdapat bentuk-bentuk komunikasi diantara anggota kelompok.

       Primata mempunyai perilaku yang lengkap yang berfungsi dalam berkomunikasi dan berintegtrasi dengan anggota kelompoknya. Perilaku tersebut berkembang terus disebabkan status hewan sosialnya. (Rowe, 1996).

       Satwa ini hidup bersama dalam kelompok sosial yang terorganisasi baik. Besarnya kalompok tergantung sepenuhnya pada persediaan makanan disuatu daerah tertentu. Jika persediaan tidak mampu menunjang semua anggotanya, beberapa kelompok kecil

 memisahkan diri dan pindah. Dan primata yang jantan biasanya sebagai pemimpin dalam kelompoknya baik dalam mencari makanan maupun sebagai pemimpin keamanan bagi kelompoknya.

      Perilaku sosial dari Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) meliputi perilaku kominikasi,  perilaku sosial, peilaku bermain dan perilaku perawatan.

Perilaku Komunikasi

       Dari hasil pengamatan bahwa banyak primata yang berkomunikasi   satu sama lain melalui suara voca ldan ekspresi muka yang diubah-ubah. Ekspresi tersebut sering diiringi dengan mengecap-ecapkan bibirnya. Komunikasi tanda bahaya atau kesediaan maupun untuk mengumpulkan anggota kelompok yang terpencar biasanya dengan berteriak, menjerit, mencicit, berbisik, mendengkur, menggeram dan kalau marah mengeluarkan taring-taringnya. Sikap dan postur tubuh juga menunjukan emosi atau tindakan sebagai tanda kepada yang lain misalnya tanda untuk lari, bertahan atau menyerang. (Tim penulis, 2003). Suara aeperti “Ghek-ghok-ghek-ghok”

(httmembers.tripod.comuakaritrachypithecus_ auratus.html).

Perilaku Seksual

       Spesies primata pada umumnya mencapai masa remaja (pubertas) atau kematangan sosial pada waktu yang berbeda-beda. Pada simpanse, Gorila dan Orangutan masa pubertas terjadi pada umur 8 – 10 tahun. Kera gibbon pada usia 7 tahun, sedangkan Babon dan kera Eropa lainnya pada umur 4 – 6 tahun. Ada yang hanya 14 bulan, seperti Mamozet. Primata betina pada umumnya menunjukan perubahan perilaku yang berkaitan dengan perubahan fisiologis selama masa estrus. Betina sering menunjukan ketanggapan atau kesediaan seks terhadap hewan jantan. Menurut Beach (1976) dalam Ambarwati (1999) bahwa ketanggapan seks (Reeptivitas) adalah kesediaan betina untuk mengadakan kopulasi. Sedangkan Proseptivitas (kesediaan seks) adalah semua perilaku yang dilakukan betina untuk memulai interaksi seks.

                Kopilasi biasa terjadi dengan posisi ventro-dorsa, yaitu primata jantan menaiki betina dari bagian punggung. Tetapi ada yang dilakukan dengan keadaan si betina tetap berdiri, berbaring ataupun meringkuk. Posisi-posisi tergantung pada spesiesnya dan keduanya mempertahankan posisinya sampai terjadi Intromisi. (Chalmers, 1979).

Perilaku Bermain

       Pada umumnya, perilaku bermain banyak dilakukan oleh Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) anak-anak. Bermain biasa dilakukan sendiri ataupun dengan individu lain.

Penggunaan Strata

       Sebagai satwa arboreal, Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) selalu berada di atas pohon dalam setiap aktivitasnya. Hal ini dilakukan jika keadaan strata tengah dan bawah tidak memungkinkan, walaupun sering dijumpai Lutung Jawa (Trachypihtecus auratus) turun ke tanah. Sebagai pertimbangan dalah pohon yang petensialdi habitatnya tumbang karena proses pelapukan atau terjadi penebangan sehingga untuk mencapai pohon berikutnya harus melewati tanah (Kurniatin, 2004)