Sebuah Titik di Ujung Kepala Burung Pantura

Selamat Datang di Muaragembong, Pak Presiden Jokowi..

1 November 2017 – Muaragembong hanyalah satu dari 23 wilayah kecamatan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Sebuah kota kecamatan yang memiliki 6 desa dan 10 muara menuju laut Jawa.

Sebuah letak semenanjung yang miliki sumber daya alam yang cantiknya alami tiada tara.

Lebay?

Cobalah berkunjung ke salah satu mesjid alam yg berada di tengah kepungan lahan tambak di wilayah desa Pantai Mekar. Elok dan begitu sunyi.

Atau bisa berkunjung ke pantai Beting yg masih asri. Dengan syarat hanya berlaku untuk pengunjung yg suka dengan dunia petualang. Sebab menikmati indahnya pantai yg belum terjamah perlu menempuh jalan yg berliku dan menggunakan perahu.

Hanya seru, bagi pecinta petualangan dan keindahan alam.

Belum lagi jumlah tambak yg berhektarhektar adalah surga untuk warga masyarakatnya. Sungguh hari ini, 1 November 2017 untuk pertama kalinya Muaragembong mulai dilirik oleh RI 1.

Pasti ada sesuatu. Yes!!

Dimulai dengan riset yg dilakukan sekitar tahun lalu oleh sekelompok orang dari KSP (kantor staf presiden) demi mewujudkan visi misi Trisakti Jokowi yg dipimpin oleh Teten Masduki.

Berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan, sebuah teori yg prakteknya tak mudah dilakukan sendiri.

Sebab semuanya akan berhasil jika karakter dan mentalitas sumber daya manusianya sudah mampu mengetahui sisi baik dan buruk secara pribadi dan melakukan perubahan.

Simak saja apa yg diramalkan Koentjaraningrat dalam ‘Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan’ pernah mengatakan bahwa “Dalam zaman post-revolusi tumbuh beberapa sifat kelemahan dalam mentalitas banyak orang Indonesia, yg menjauhkan kita dari pembangunan”.

Ia menganalisis bahwa krisis mentalitas itu bersumber pada kehidupan tanpa pedoman dan tanpa orientasi yang tegas. Sehingga menghasilkan mentalitas penerabas, mentalitas yang suka meremehkan, kurang percaya diri dan mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab (Koentjaraningrat 2000: 45).

Jadi dengan kehadiran sosok negarawan asal solo yg lebih suka disebut ‘ndeso’ ini seolah memercikan nyala api yg sudah lama padam di hati para pegiat lingkungan dan warga masyarakat di Muaragembong.

Why?

Mari mulai kaitkan apa yg ada dalam Trisakti dan Program Kehutanan Sosial Nasional, ada benang merah untuk pemberdayaan ekonomi dengan swasembada ikan dan udang yg dirawat di lahan tambak yg dijaga oleh rimbunya pepohonan mangrove.

Pengelolaan 84 ha lahan tambak yg diawasi secara bersama dan berkesinambungan ini nantinya akan dilakukan secara modern, salah satunya dengan membangun pabrik es batu sebagai pengawet hasil panen ikan dan udang.

Namun ada istilah ‘kerasnya alam memang tak mungkin dilawan’ , sebab ini pun berlaku jika pasang laut datang dan abrasi menerjang. Dapat dipastikan beberapa lahan tambak akan gagal panen karena air laut yg dibawa gelombang pasang meluap, menghanyutkan benur ikan dan udang.

Namun setidaknya program bersama CSR BUMN ini bisa membawa angin segar pencerahan untuk pegiat dan pemerhati lingkungan agar lebih bersemangat menghijaukan dan merawArt sabuk hutan mangrove dengan menata lahan tambak. Misalnya dengan perbaikan tanggul dan saluran air ke laut dengan kesinambungan dan pendampingan yg berkelanjutan.

Tapi hari ini pun saya senang sekali melihat iringiringan Paspampres begitu riuh sepanjang jalan di pasar Muara menuju Bekasi Kota.

Jika di Muaragembong bisa merasakan infrastruktur yg memang sedikit demi sedikit mulai ditata dengan adanya Dana Desa. Maka di sepanjang jalan wilayah Babelan pasti menikmati jumlah lubang yg tak terhingga banyaknya dan bahkan sudah beberapa kali memakan korban jiwa.

Semoga bisa dijadikan catatan pakde.

Begitu pun menikmati pekatnya sungai CBL yg suramnya sama dengan tumpang tindih status lahan hutan dan tambak di Muaragembong.

Nah pakde, berjanjilah suatu saat nanti kembali ke Muge untuk menikmati enaknya bandeng rorot yg luar biasa. Saya jamin akan jatuhati setengah mati.

#terasuka
#muaragembongkita