Tradisi Budaya Nadran Potensi Wisata Unggulan Muaragembong

Desa Pantai Bahagia, 28/8/2017 – Begitu banyak Potensi dan kearifan lokal yang ada di kecamatan muaragembong. Salahsatunya  tradisi budaya Nadran/Pesta laut yang menarik perhatian masyarakat Kota dan Kabupaten Bekasi. Banyak orang yang datang menyaksikan acara budaya pesisir tersebut

Nadran adalah sebuah tradisi tahunan yang rutin dilaksanakan oleh nelayan pesisir muaragembong. Kata nadran sendiri berasal dari kata nadzar – nadzaran – nadran yang berarti kaul atau syukuran. perihal diadakannya tradisi ini sendiri adalah atas rezeki melimpah yang telah diberikan Sang Khalik kepada mereka baik berupa keselamatan ketika berlayar di laut maupun hasil ikan yang melimpah sepanjang tahun yang lalu.

Tahun ini tradisi nadran diadakan di wilayah pesisir muara bendera, desa pantai bahagia, kecamatan muaragembong, kabupaten bekasi. Tradisi nadran sendiri mula-mula diawali dengan diadakannya pagelaran wayang kulit semalam suntuk dalam ruwatan dengan lakon tertentu, serta beberapa hiburan layaknya pesta. Semua warga nelayan khususnya di wilayah muara bendera, desa pantai bahagia hadir hari itu tumplek blek menikmati pesta tahunan ini hingga pesta menjadi begitu meriah.

Ratusan nelayan dengan perahu yang dihias sedemikan rupa tumpek di hilir citarum muara bendera. Ada satu perahu yang menarik perhatian, perahu nelayan tersebut membawa miniatur perahu yang biasa disebut, Meron. Meron sendiri adalah miniatur perahu yang didalamnya diisi dengan kepala kerbau, kulit kerbau, dan berbagai macam sesaji yang nantinya akan diangkut kedalam perahu sungguhan untuk kemudian dilarung ke tengah lautan.

Ketika meron yang telah dimuat di dalam perahu berlayar, para penduduk nelayan dengan perahunya masing-masing akan mengawal perahu yang membawa meron ini untuk kemudian ketika meron dilarung para penumpang kapal yang ikut mengawal tadi akan berbondong-bondong terjun ke laut demi memperebutkan segala sesaji dari meron yang dilarung tadi.

Berbagai sesaji yang mereka dapat dari meron yang sebelum dilarung telah dibacakan mantra-mantra yang berbaur dengan asap dupa oleh dukun diyakini penduduk bisa dijadikan jimat yang berkhasiat untuk menolak bala sekaligus mendatangkan rezeki berlimpah ketika dibawa berlayar mencari ikan.

Begitu upacara ruwatan usai maka usai pulalah acara tradisi nadran ini dan para nelayan pun pulang ke rumah masing-masing untuk kembali berkutat dengan rutinitas sehari-hari mereka yang tak lepas dari jaring dan perahu.(*)