Alam Adalah Guru Kehidupan

Rabu, 31 Januari 2018 – Awalnya kami dihubungi pihak manajemen Jingga terkait tayangan banjir pasang laut yang melanda pesisir sehari setelah pergantin tahun baru. Tinggi debit air laut tak mampu ditahan, juga angin kencang tak mampu dilawan para nelayan yang hendak melaut.

Adalah sebuah kenyataan lain menjelang pergantian tahun baru china. Kencangnya angin dan hujan yang kerap melanda wilayah Indonesia, terutama masyarakat pesisir. Nelayan menghadapi masa ceklik dengan hasil laut yang minim bahkan sering tangkapan kosong.

Hal ini yang membuat kami mengiyakan bantuan berupa sembako dan karung bekas untuk dibagikan kepada warga setempat yang hanya berjumlah kurang lebih 40 kepala keluarga.

Dan hari yang dinanti pun tiba, Sekolah Alam Jingga, kota Bekasi mengadakan outing class sebahagian siswa smp-smk dan bakti masyarakat ke RT 05 RW 02, Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong.

Kejutan pertama ketika mereka tiba di kantor Kecamatan Muaragembong adalah sambutan ramah dari pak Camat, Junaefi, S. STP, M. Si. Beliau baru yang dilantik sekitar Desember 2017 lalu menggantikan camat lama yang dipindahtugaskan ke wilayah kecamatan lain.

Pak Isnan sebagai wakil dari Sekolah Alam Jingga yang sudah tiga tahun belakangan aktif berinteraksi di wilayah Muaragembong, sangat berterimakasih dan merasa ‘surprise’ dengan sambutan tsb.

Setelah loading barang selesai di perahu, satu persatu anakanak dan para guru pembimbing pun menikmati suasana sepanjang sungai dan anak sungai Citarum yang pada pagi hari itu mengalami anomali pasang laut.

Anomali adalah keadaan yang terjadi ketika air laut naik memasuki wilayah sungai, sebuah kebalikan dari sifat aliran sungai yang biasanya dari hulu ke muara. Penyebab utama pasang adalah naiknya posisi air laut yang dipengaruhi oleh gravitasi bulan dan matahari, ditandai dengan adanya ‘supermoon’ atau purnama penuh dan berada di titik terdekat dengan bumi.

Sepanjang perjalanan anakanak tak hentihenti bertanya tentang halhal yang pertama kali atau jarang mereka jumpai di kota, seperti ‘helikopter’, buah pidada, kandang kambing yang nampak lebih tinggi ketimbang rumah pemiliknya atau banyaknya ikan glodok yang bermata belo.

Setelah sandar di bangunan permanen mck pertama, satu persatu dengan bergandengan anakanak dituntun pak RT dan beberapa warga yang sudah sejak tadi menunggu di pinggir mushola. Pasang air yang cukup tinggi menjelang gerhana bulan nanti malam membuat licin bambu jalan lingkungan setempat.

Setelah istirahat sejenak, mereka pun memperkenalkan maksud kedayangan mereka kepada kami dan warga setempat yang berada di mushola.

Secara simbolis pun sembako dan karung bekas yang mereka bawa pun diterima dengan segala ucapan terimakasih dan rasa syukur.

Banyak pelajaran dari tumbuh kembangnya wilayah pesisir yang didapat dari perjalanan selama outingclass berlangsung. Alam banyak mengajari warga setempat untuk mulai terbiasa menghadapi beratnya situasi tanpa panik, berbeda dengan masyrakat kota yang akan mengungsi di wilayah aman.

Relokasi bukan sebuah jalan keluar dari banjir dan akan sangat banyak memakan biaya. Solusi utama adalah membuat sabuk, baik secara permanen mau pun secara penghijauan sebagai penahan pasang dan gelombang.

Ketika alam tak mampu dijaga maka kita harus bersiap menghadapi bencana.

Sekali lagi, terimakasih Sekolah Alam Jingga telah belajar bersama.

About the author

admin

Add Comment

Click here to post a comment