Bersyukur, Ini Masih Indonesia

Literasi TBM #terasuka

Kampung Beting, 10 Februari 2018 – Kali ini beberapa relawan dari beberapa komunitas yang ada di Jakarta sudah sejak pukul 9 pagi menunggu perahu pasir datang di parkiran kantor Kecamatan Muaragembong, hendak berkunjung ke Kampung Beting, desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi.

Setelah perahu yang dinanti datang, beberapa dus donasi berisi bukubuku dan peralatan tulis menulis dirapikan di perahu. Donasi buku berasal antara lain dari penerbit Gramedia, penerbit Naura, TK Ceria Bekasi, komunitas Bersyukur Menjadi Indonesia,  komunitas Bhinneka dan beberapa donatur perorangan seperti salah satunya kang Maman Suherman dkk.

Beruntung kali ini tidak hujan, matahari begitu garang membakar laju perahu melalui sungai Citarum menuju TBM #terasuka, di ujung muara Kampung Beting. Sepanjang jalan masih nampak sisa terjangan banjir limpas yang sempat mengikis bantaran Sungai Citarum.

Meski sudah sering kali didatangi pengunjung yang berwisata ke wilayah Muara Beting, tak membuat warganya berbenah lokasi dan memperbanyak jamban di dalam rumah. Faktor ekonomi yang menyebabkan tingkat kebersihan dan kesehatan menjadi hal yang terabaikan.

Tata kelola lingkungan yang tak memperhatikan adanya tanggul dan sistem saluran pembuangan di sepanjang sungai juga menjadi penyebab rusaknya jalan di sana sini. Membangun jalan tapi melupakan drainase dapat menyebabkan terjadi luapan hujan dan limpas sungai yang tak bisa dikendalikan.

Banyak hal yang baru pertama kali dilihat para pendatang ketika menyusuri liuk lekuk muara adalah rimbun buah pidada yang bila matang bisa dijadikan dodol, sirup dan sambal, atau pun bila mentah bisa jadi lalapan atau campuran bahan pepes ikan.

Bentuk akar pohon jenis pidada merah ini pun istimewa, jika pohon pada umumnya menembus tanah tapi akar pohon yang bergenus ‘Sonneratia’ ini posisinya justru tumbuh terbalik seperti inangnya dan menjalar. Tumbuhan ini bisa ditemukan di beberapa tempat yang bersalinitas rendah dan berlumpur dalam, di tepi sungai atau rawarawa yang masih dipengaruhi pasang surut air laut.

Selain buah yang bisa dimanfaatkan sebagai berbagai makanan, ada pula akar nafasnya yang lunak di dalam dan mengandung rongga renik, dapat dijadikan sebagai penganti gabus untuk tutup botol, kok batminton dan bagian dalam sol sepatu.

Demikian cerita panjang lebar pak Wawan, ketua RT 05 RW 02 Kampung Beting kepada para relawan pengunjung di atas perahu yang lambat laun mulai mendekati pemukiman warganya setelah melalui eksotika alam hutan  mangrove.

Setelah perahu bersandar di sekitar musholla setempat. para relawan pun berjalan merambati titian bambu yang merupakan satusatunya jalan lingkungan di wilayah tersebut. Suasanya pemukiman warga tak seramai biasanya sebab bertepatan dengan kesibukan menjelang pembagian kartu dan menyerahan data Program Keluarga Harapan di halaman kantor kecamatan Muaragembong.

Tak berapa lama berapa anakanak datang berlarian, masuk ke dalam mushola dan merapikan posisi duduknya menghadap kiblat agar bisa saling memandang dan berkenalan dengan tamu yang datang.

Nampak beberapa di antaranya sangat kelelahan setelah berjalan melewati empang. Untungnya keringat yang deras mengucur terbayar dengan sambutan hangat para relawan yang menghibur dengan berbagai pertanyaan sebagai tanda pendekatan.

Kak ‘Dilan’ Agustian, founder Sekolah Raya pun memulai ‘pedekate’ dengan memperkenalkan siapa saja relawan yang datang siang itu. Ia pun minta anakanak untuk memperkenalkan dirinya satu persatu. Di antara beberapa yang masih malumalu menyebutkan namanya, ada banyak pula yang mulai berani bahkan makin komunikatif dengan para relawan.

Lantas bergulirlah sebuah cerita tentang dunia binatang. Ada tawa mungil dan celoteh mereka mengiringi tiap adegan di dalamnya. Suasana yang dingin dan berjarak begitu cepat mencair hingga sesi ‘pedekate’ berakhir.

Beberapa relawan komunitas pun membagikan beberapa barang donasi yang antara lain berupa perlengkapan alat tulis dan roti untuk dibawa pulang. Sebentar memang, sebab air sungai Muara Beting mulai surut sejak pukul 12 siang, sementara jam di tangan saya sudah menunjukan pukul 13.00 wib.

“Kurang lama mainya, Mba!” ucap salah seorang relawan komunitas Bersyukur Menjadi Indonesia kepada saya yang sedang mencemaskan balingbaling perahu yang selalu tersangkut sampah karena debit air sungai yang makin sedikit.