Begini Kondisi Ruang Kelas Sekolah di Muaragembong

Ihsan Dalam Tindak Tanduk

Desa Pantai Bahagia, Juli, 2018 – Ini real sebuah keadaan yg bagi saya sangat menyedihkan jika menilik posisi geografis muaragembong yg hanya berjarak tak kurang dari 80 km atau sekitar tiga jam dari pusat kenegaraan, ibukota jakarta.

Dengan fasilitas yg minim kompleks sekolahan yg terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah/SD, Madrasah Tsanawiyah/SMP dan Sekolah Menengah Kejuruan ini terkesan dikesampingan atau tak terjangkau apa yg sering dinamai Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Sementara dana bos sudah habis utk maintenance sekolah dan honor guru yg nilainya tak lebih dari 500 ribu sebulan. Pencairan bos memakan waktu antara 3-5 bulan.

Jadi wajar jika guru honorer rajin puasa lahir dan batin.

Tanah yg statusnya garapan menjadi salah satu kendala lain untuk kelengkapan administrasi ijin operasional sekolah. Syarat yang seharusnya bisa dipermudah dengan adanya program hutan sosial belum terserap manfaatnya sebab kendala ketidaktahuan informasi.

Bila belajar di MTS ini, siswanya akan paham bagaimana tiga tahun tanpa meja dan kursi untuk belajar di ruang kelas. Duduk pada dingin ubin menjadi sebuah kebiasaan yg membuat anakanak menjadi punya nilai tambah secara kecerdasan ekologis yg tak dimiliki masyarakat kota.

Warga yg tersisih cenderung terpaksa keluar dari zona nyaman hingga mampu mengajari mereka bagaimana menyelesaikan kesulitanya secara mandiri dan jarang cengeng.

Ada sebuah idiom di sebuah buku yg judulnya sulit diingat penderita disleksia seperti saya adalah jika ingin melahirkan pemimpin yg bijaksana tempatnya bukan pada wilayah yg penuh zona nyaman. Sikap kritis dan tahan uji justru akan tumbuh kembang pada zona tak nyaman.

Kritis bukan hanya pandai mengkritik tapi harus bisa memberikan solusi. Sebab arti sebuah iqro bukan hanya mengaji tapi juga mengkaji lebih dalam makna alam.

Jika tidak, maka serupa slogan tong kosong nyaring bunyinya, bukan?

Alhamdulillah solusinya meja dan bangku telah dimulai setelah bertahuntahun terabaikan. Dan hanya tempat ini yg saya jelajahi tak memiliki meja dan kursi sebagai sarana mendapatkan hak sebagai anak indonesia.

Dan mereka di sini tak pernah berpikir menyalahkan siapa pemimpinya atau presidenya. Sebab paham banyak wilayah yg lebih membutuhkan.

Adakah rasa sukur yg kita dustakan?

Dari pesisir utara kabupaten bekasi di hari pertama sekolah.