Geliat Taman Belajar Masyarakat Terasuka Kampung Beting

Restu Bumi

Desa Pantai Bahagia, Sabtu, 14 Juli 2018 – Akhir Pekan ini sebuah babak kelanjutan taman belajar masyarakat (tbm) yg sudah sejak 6 bulan tidak membuka kelasnya.

Meski tanpa kelas selalu ada saja kegiatan yg mengikutsertakan warga baik anakanak mau pun dewasa untuk turut serta berLiterasi.

Jika literasi adalah urat nadi kehidupan. Maka pembelajaran melalui kegiatan apa pun harus tetap dilakukan, ada atau tanpa ruang (tak berbatas).

Diam-diam semesta melimpahi sebuah bangunan kecil yg berukuran 5×5 meter untuk dapat dipergunakan. Dengan view belakang rumah adalah empang dan rimbunan mangrove membuat sepoi angin selalu menghampiri daun pintu jadi menyejukan seisi ruangan.

Sisi depan ada sungai kecil dan agak dangkal bernama sungai/kali beting dan ada pula MCK umum di samping rumah yg sengaja dibangun utk kebutuhan warga sekitar menjadikan rumah ini bagus dijadikan posko cinta, jujugan parkir sebelum melanjutkan perjalanan menuju pantai muara beting.

Sedikit agak flashback, di tahun awal #terasuka tumbuh dari beberapa titik persinggahan yg ada di kampung beting, desa pantai bahagia, kecamatan muaragembong.

#terasuka telah secara rutin numpang di teras rumah bang minggu, rumah kembar indraandri, musholla rt 04 dan rt 05, pantai berpasir muara beting dan lahan kosong yg jika tak ada abrasi dijadikan arena bermain warga tbm, seolah jadi saksi bisu jatuh bangun belajar bersama.

Mundur beberapa saat untuk kemudian lesat, sesekali perlu untuk menata ulang apapa yg sudah dan belum dilakukan demi membangun masa depan lebih baik bersama literasi.

Diawali dengan bersihbersih dan menata ruangan lalu dilanjutkan memindahkan satu persatu meja belajar dan beberapa dus buku.

Lembab tanah sebab abrasi menjadikan beberapa peralatan ditumbuhi jamur dan basah. Saya bersyukur jika bangunan model panggung ini posisinya lebih tinggi dari beberapa meter dari titik tertinggi banjir pasang.

Setelah berhasil memisahkan yg masih baik dan yg berjamur, dibantu pa wawan dan beberapa warga mulai merakit lemari plastik hibah dari mahasiswa Institut Bisnis School (IBS) jakarta tahun lalu.

Lalu kesibukan hari itu diakhiri dengan doa dan selamatan kecil bersama warga sekitar. Begitu riuh dengan hidangan ala kadarnya, berbumbu cinta kasih menjadikan saya dan mereka tak lagi miliki jarak dalam sebuah peluk keluarga besar.

Mereka akan selalu memanggil saya dengan “bu ira” dan suami tetap dipanggil “bang ucie” di mana pun kami berada.

Alhamdulillah bertubitubi.

Terimakasih atas doa yg tak putus dari warga dari segala usia dan keluarga yg menjadikan mimpi ini menjadi nyata.

Diawali dengan alfatihah, insyallah TBM #terasuka mulai bergiArt.

About the author

admin

Add Comment

Click here to post a comment