Home » Perayaan Sumpah Pemuda Ala Pembakti Kampung 34 Provinsi Di Anyer

Perayaan Sumpah Pemuda Ala Pembakti Kampung 34 Provinsi Di Anyer

Salam Sumpah Pemuda. Salam Pancasila. Salam Indonesia.

Merayakan hari sumpah pemuda pada setiap tanggal 28 Oktober sebenarnya baik jika dilakukan dengan berbagai kemeriahan. Sebab semangat pemuda lebih dari letupan matahari ketika malam berhenti.

Seperti perayaan Sumpah Pemuda yang dilakukan oleh para pembakti kampung, jejaring dan komunitas dari 35 provinsi di seluruh Indonesia di acara ‘Persamuhan Nasional 2019’ yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sejak 26-30 Oktober 2019 di Marbella, Anyer provinsi Banten, sangat meriah, partisipasi dan berlangsung sejak pukul 08.00 wib hingga 10.30 wib di tepi pantai Anyer.

Serangkaian perayaan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza, pembacaan Sumpah Pemuda, rampak bedug, nyanyi, tarian dan beberapa aktraksi pembacaan puisi yang lebih bersifat partisipasi dan spontan dari para peserta.

MeRamu Isu (FGD)

Persamuhan Nasional 2019 mempertemukan berbagai komunitas pembakti bangsa dalam sebuah forum untuk melahirkan gagasan-gagasan yang diharapkan menjadi kebijakan strategis suatu hari nanti, entah kapan.

Isu strategis yang masih seksi untuk didiskusikan membagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu : Kebangsaan yang dipandu langsung oleh Presiden Japung Nusantara, kelompok Tanah Air yang dipandu Irene C. Sinaga dan kelompok Bahasa yang dipimpin Taufik Rahsen.

Pada kelompok kebangsaan yang paling banyak memiliki minat pembahasan dan mendalami kenyataan yang terjadi, terkait betapa sulitnya menyadarkan bahwa melahirkan dan merawat kampung adalah tugas kelompok dan tak butuh piala. Empati dan sukarela adalah harga mati

Bahwa konsep membangun dan merawat tradisi dalam kampung harus mampu mengemas multikultural dalam bungkus kesederhanaan yang lebih mendahulukan toleransi dan konteks kebahagiaan dalam wadah besar bernama Rumah Indonesia.

Di bawah pengawasan Irene kelompok tanah air banyak membahas segala permasalahan dalam nafas perempuan. Berbagai ketimpangan hak perempuan, isu kesetaraan, kemampuan, pemberdayaan, kesejahteraan dan perlindungan dikaji dengan menyisir kisi-kisi berbagai bidang keilmuan, baik secara ekonomi, sosial budaya dan politik. Jumlah peserta pun lumayan banyak dan berlangsung cair meski tak sebanding jumlah peserta pada kelompok kebangsaan.

Dalam kelompok bahasa yang lebih membahas pagelaran, festival dan berbagai kegiatan kampung. Kesuksesan adalah terselenggaranya acara. Akan selalu ada tambal sulam dalam penyelenggaran acara. Diawali dengan membuat kurasi yang prosesnya memiliki kerangka acuan dengan digali, diangkat dan dikembangkan dari berbagai nilai lokal tradisi.

Focus Group Discustion (FGD) di sini justru mampu berhasil menerjemahkan sila keempat Pancasila, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

SemangArt gotongroyong pun cukup nampak selama acara Persamuhan Nasional 2019 yang mempertemukan 444 pembakti kampung dari berbagai penjuru tanah air, sebab sebagian besar pembakti adalah relawan yang pergerakanya lebih spontan dan sporadis tanpa perlu direncanakan.

#kampungnusantaramemanggil