Home » Perkembangan bahasa Betawi di Muaragembong

Perkembangan bahasa Betawi di Muaragembong

Sesuai dengan suku pertama yg mendiami Kp. Muaragembong, Kp. Gaga dan kp. Muara Belacan tahun 1619 adalah Banten, maka bahasa yg digunakan tentunya juga bahasa Banten Cirebonan. Dan di Kp. Kedung Cinde menggunakan bahasa Sunda. Kemudian th 1624 berdatangan lagi Banten dan mendiami Kp. Belukbuk, Muaragembong dan Gaga juga berbahasa Banten Cirebonan.

Tahun 1666 datanglah suku Bugis Makassar di (kini) Kampung Bugis. Suku Bugis ini menikah dg wanita asal suku Melayu di Cabang Dua dan melahirkan anak berbahasa Betawi (Bekasi) / Melayu karena mengikuti bahasa ibunya.

Seiring perkembangan penduduk baik internal (penduduk turunan) maupun eksternal (pendatang), maka bercampurlah bahasa Banten Cirebonan, Sunda, Melayu, Bugis dalam interaksi sosial.
Dalam interaksi berbagai suku tersebut tentu menggunakan bahasa yg mudah dimengerti dan dipahami, sebagai mana juga yg dilakukan di kota Batavia saat itu, yaitu bahasa Melayu.

Akhir abad XVII datanglah China di kp. Cabang utk berdagang yg juga sambil belajar menggunakan bahasa Melayu.

Di pusat perdagangan kini Kp. Cabang itulah pusat interaksi masyarakat antar suku yg dulu disebut Kp. Kongsi. Yang selanjutnya perdagangan dimonopoli Belanda.

Th 1811 masa Gubernur Jenderal Hindia-Belanda dalam kekuasaan Inggris yg dipegang oleh Stanford Raffles yg mulai pemerintahan memakai system’ desentralisasi. Dan Kp. Cabang dijadikan Distrik Cabang Bungin. Bahasa masyarakat tetap Melayu.
Dalam sensus penduduk th 1930, barulah muncul suku Betawi, walaupun Betawi adalah pergeseran kata dari kata Batavia yg keberadaannya sejak 1619, namun Kesukuan Betawi resminya th 1930.

Bahasa Melayu itulah yg selanjutnya disebut bahasa Betawi yg dipergunakan di Muaragembong.

Syakiran | Pegiat Sejarah Muaragembong